Kefamenanu, RakyatTimor.ID – Suasana haru mewarnai pembukaan Pameran Literasi Pendidikan antar Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S-SD) dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS-SMP) se-Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kamis (30/4/2026).
Air mata Elisabeth Degei (14) mengalir saat dirinya tampil memainkan suling bambu di hadapan para tamu undangan di lapangan Kantor Bupati TTU.
Bersama teman-temannya dari SMP Swasta Mimbar Budhi, Manufui, ia membawakan alunan lagu daerah “Bolelebo” dengan penuh penghayatan.
Penampilan tersebut menarik perhatian Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo. Usai meninjau stand pameran, Bupati menghampiri para pemain musik dan berbincang langsung dengan Elisabeth.
Dalam momen itu, Bupati memberikan tawaran bantuan biaya transportasi agar Elisabeth dapat pulang ke Papua saat Natal untuk bertemu keluarga.
Tawaran tersebut sontak membuat Elisabeth tak kuasa menahan haru.
Tangisnya pecah di tengah keramaian. Bupati pun menenangkan dengan menepuk pundaknya sambil berpesan agar tetap kuat. Kapolres TTU, AKBP Eliana Papote, turut memberikan pelukan, diikuti teman-teman Elisabeth yang berusaha menguatkannya.
Elisabeth merupakan siswi kelas VIII di SMP Swasta Mimbar Budhi. Ia berasal dari Diyegi, Papua, dan merupakan anak sulung dari tujuh bersaudara. Sejak kehilangan ibunya pada 2024, ia harus menjalani hidup jauh dari keluarga demi melanjutkan pendidikan di TTU.
Ayah dan enam adiknya kini masih tinggal di Nabire, Papua. Jarak yang memisahkan membuat komunikasi hanya terjalin melalui telepon dan panggilan video.
Di balik kisah hidup yang penuh tantangan, Elisabeth menyimpan cita-cita mulia. Ia ingin menjadi seorang suster dan mengabdikan diri dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama.
“Saya ingin menjadi suster,” ujarnya dengan tegas.
Kepala SMP Swasta Mimbar Budhi, Yuventha Theresia Lake, menjelaskan bahwa Elisabeth merupakan salah satu dari tujuh siswa asal Papua yang tinggal di Panti Sosial Susteren OSF di wilayah Biboki Selatan.
Ia menyebut, selain bermain suling bambu, Elisabeth juga memiliki bakat menyanyi. Namun, setiap tampil, terutama pada momen tertentu seperti Natal, ia kerap terbawa emosi hingga menitikkan air mata.
Sekolah tersebut memberikan pendidikan tanpa pungutan biaya serta menjunjung tinggi nilai inklusivitas tanpa memandang latar belakang.
Kisah Elisabeth menjadi potret nyata semangat tema Hardiknas 2026, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.”
Di tengah keterbatasan, Elisabeth tetap melangkah dengan harapan. Nada suling bambu yang ia mainkan mungkin telah usai, namun kisah perjuangannya terus bergema sebagai inspirasi tentang keteguhan, rindu, dan mimpi yang tak pernah padam. (*/rt1)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatTimor.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
