Wagub NTT juga menyoroti sejumlah tantangan sosial ekonomi yang masih dihadapi masyarakat NTT. Ia menyebut angka kemiskinan di NTT pada 2025 masih berada di kisaran 17,5 persen dari total sekitar 5,7 juta penduduk.
Selain itu, masih banyak pekerja yang menerima upah di bawah standar, bahkan hanya berkisar Rp800 ribu hingga Rp1 juta per bulan.
“Kondisi ini sangat memprihatinkan dan membutuhkan perhatian bersama,” ujarnya.
Persoalan stunting juga menjadi perhatian dalam sambutan tersebut. Menurut Johni, tingginya angka stunting tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi, tetapi juga rendahnya tingkat pendidikan serta pola pengelolaan keuangan keluarga.
Ia mencontohkan pengeluaran masyarakat untuk rokok dan minuman keras yang bisa mencapai Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per hari.
Menurutnya, jika pengeluaran tersebut dialihkan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga seperti telur, ikan, dan sayuran, maka kesehatan anak dan ibu hamil dapat lebih terjamin.
Karena itu, Johni mengajak gereja untuk aktif mengedukasi jemaat agar menerapkan pola hidup sehat dan lebih memprioritaskan kesehatan keluarga.
Dalam kesempatan tersebut, Wagub NTT juga menyinggung kondisi global yang tidak stabil akibat konflik di sejumlah negara yang berdampak terhadap kenaikan harga energi dan kebutuhan pokok.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatTimor.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









