Ahli Forensik Ungkap Fakta Baru di Sidang Guru Aniaya Siswa di TTS, Korban Alami Patah Tulang Tengkorak

Sidang SoE
Persidangan kasus dugaan penganiayaan guru terhadap siswa di Desa Poli, Kecamatan Santian, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), kembali digelar di Pengadilan Negeri SoE, Senin (18/5/2026). (Foto: Alonso/RakyatTimor.ID)
  • Bagikan

JPU juga menghadirkan barang bukti berupa dua batu dengan ukuran berbeda, yakni sebesar jempol orang dewasa dan sebesar kepalan tangan orang dewasa.

Menanggapi hal itu, dr. Edwin menjelaskan bahwa kemungkinan terjadinya patah tulang sangat dipengaruhi oleh kekuatan pukulan, daya tahan tubuh korban, dan kepadatan tulang.

“Yang kecil sangat tidak mungkin, tetapi jika dengan gaya pukulan yang besar bisa ada kemungkinan. Sedangkan batu yang besar sangat bisa menyebabkan patah tulang tengkorak bahkan kematian,” katanya.

Ahli forensik juga menegaskan bahwa kepala merupakan organ vital yang tidak boleh mengalami benturan atau trauma karena berkaitan langsung dengan fungsi kehidupan.

Ia menjelaskan gejala patah tulang dasar tengkorak dapat berupa demam, muntah, pendarahan, gangguan neurologis, hingga gangguan pernapasan.

Dalam persidangan juga terungkap kemungkinan lain terkait peristiwa korban terjatuh dari sepeda motor. Menurut dr. Edwin, benturan akibat jatuh juga dapat menyebabkan patah tulang dasar tengkorak tergantung bagian tubuh yang pertama kali menghantam permukaan.

“Secara medis, benturan, hantaman, maupun pukulan dapat menyebabkan patah tulang dasar tengkorak,” ujarnya.

Usai sidang, dr. Edwin menjelaskan bahwa proses otopsi dilakukan enam hari setelah korban meninggal dunia sehingga kondisi jenazah sudah mengalami pembusukan.

Baca Juga:
Aparat Desa di TTS Dianiaya Warga Usai Digerebek di Rumah Wanita Bersuami

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatTimor.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version