Seminar Sejarah TTU Ungkap Perjalanan Panjang hingga Resmi jadi Kabupaten pada 1958

landmark kota kefa
Landmark Kota Kefamenanu. (Foto: Ist)
  • Bagikan

Ketika prajurit tersebut menunjuk ke arah sungai, penduduk yang berada di seberang sungai menjawab “kefamnanu”, yang berarti jurang dalam.

Kata tersebut kemudian dicatat oleh prajurit Belanda dan dilaporkan kepada atasannya. Dalam perkembangannya, istilah tersebut dikenal sebagai Kefamenanu dan menjadi nama pusat pemerintahan wilayah Timor Tengah Utara.

Baca Juga:
Kasus KDRT di TTS Berujung Kematian, Polisi Amankan Perempuan 56 Tahun

Dari Pemerintahan Militer ke Pemerintahan Sipil

Sistem pemerintahan kolonial kemudian mengalami perubahan dari pola militer menuju pemerintahan sipil.

Para Kornel kembali menandatangani Zelfbestuursregelen Nomor 529 Tahun 1938 yang memberikan kewenangan kepada para Kornel sebagai zelfbestuurder untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan sendiri.

Baca Juga:
Ayah dr Icha Penuhi Panggilan BK DPRD TTU, Protes Tak Diizinkan Didampingi Kuasa Hukum

Tiga tokoh yang menandatangani dokumen tersebut adalah Kau Mauk Manlea dari Biboki, Kahlasi Taolin dari Insana dan Sobe Sanak dari Miomaffo.

Pada periode ini, istilah Swapraja mulai digunakan menggantikan istilah landschappen.

Ketika Jepang mengambil alih pemerintahan, Onderafdeling Noord Midden Timor dibubarkan dan digantikan dengan istilah Bunken.

Meski demikian, sejumlah struktur pemerintahan lokal seperti swapraja, kefetoran dan ketemukungan tetap dipertahankan.

Pusat pemerintahan Jepang berkedudukan di Kefamenanu, sedangkan pusat evaluasi pemerintahan berada di Haumeni Ana.

Perkembangan Pemerintahan setelah Indonesia Merdeka

Setelah Indonesia merdeka, sistem pemerintahan di Timor mengalami sejumlah perubahan.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatTimor.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version