So’E, RakyatTimor.ID – Sebanyak 43 siswa di Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Para korban berasal dari SD GMIT Panite dan SMA Negeri 1 Amanuban Selatan. Selain siswa, sejumlah guru dan pegawai juga dilaporkan turut mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi makanan tersebut pada Kamis (30/4/2026).
Tak hanya siswa, sejumlah guru dan pegawai setempat ternyata ikut jadi korban.
Makanan MBG tersebut didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pollo yang dikelola Yayasan Atoin Nusa Amasat di Desa Bena, Kecamatan Amanuban Selatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, dr. Carolina Tahun, menyampaikan bahwa seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis di Posko BPBD dan Puskesmas Panite.
“Untuk sementara terdapat 43 pasien yang mengalami gejala keracunan makanan, terdiri dari siswa, guru, dan pegawai,” ujarnya.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 27 orang telah dipulangkan setelah menjalani observasi dan menunjukkan kondisi membaik. Sementara itu, 16 pasien lainnya masih menjalani perawatan intensif.
Gejala yang dialami para korban antara lain mual, muntah, pusing, serta gangguan pencernaan. Tim medis terus melakukan pemantauan terhadap kondisi pasien yang masih dirawat.
Aparat kepolisian dari Polres TTS juga telah turun tangan dengan mendatangi SPPG Pollo untuk menelusuri proses pengolahan makanan. Dari hasil pemeriksaan awal, menu yang didistribusikan pada Rabu (29/4/2026) terdiri dari nasi beras merah, ayam bumbu kuning, tempe goreng, acar mentimun, dan salad buah.
Proses pengolahan makanan dilakukan sejak dini hari, dengan penggunaan bahan ayam kemasan serta air galon untuk memasak. Sementara air untuk mencuci peralatan berasal dari penampungan air tanah.
Distribusi makanan dimulai pukul 08.00 WITA, sementara waktu konsumsi berbeda di masing-masing sekolah, yakni sekitar pukul 11.00 WITA untuk SD GMIT Panite dan pukul 13.30 WITA untuk SMA Negeri 1 Amanuban Selatan.
Untuk memastikan penyebab pasti keracunan, Dinas Kesehatan telah mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium, termasuk melalui Labkes dan BPOM. Pemeriksaan ini bertujuan mengidentifikasi kemungkinan adanya bakteri, zat kimia, atau kontaminasi lainnya.
Saat ini, tim tenaga kesehatan masih siaga di Posko BPBD guna memastikan penanganan optimal bagi para korban serta mencegah dampak lanjutan dari kasus tersebut. (*/rt1)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatTimor.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









